Rabu, 14 September 2011

BONSAI DI MEKARSARI

Seni Bonsai atau biasa dikenal dengan istilah seni ‘Mengerdilkan Tanaman’ sudah ada sejak zaman Dinasti Tsin (265 - 420). Seni ini merupakan salah satu hobi para bangsawan China yang dikenal dengan sebutan Penjing. Bonsai menjadi populer setelah menjadi simbol perdamaian perang di Bukit Merah pada tahun 207 M. Perkembangannya berlangsung pesat di Jepang setelah dibawa oleh para biksu China Pada tahun 1876 M.
Kata BONSAI berasal dari bahasa Jepang yang diartikan sebagai Tanaman dalam Pot. Bonsai menjadi dikenal di masyarakat umum setelah ada bangsawan Jepang yang mengajarkan teknik pembuatan bonsai kepada salah seorang muridnya yang berasal dari kalangan biasa.
Kini perkembangan seni bonsai sudah menjadi milik dunia. Bahkan Indonesia termasuk dalam salah satu negara dengan pamor bonsai tropis yang cukup disegani di dunia perbonsaian internasional.

Ciri tanaman yang dapat dibonsai :
1) Tanaman berkeping dua (dikotil)
2) Berumur panjang
3) Bentuk indah secara alami
4) Tahan hidup menderita
5) Tahan terhadap perlakuan

Contoh tanaman yang umum di bonsai: beringin, bunut, serut, kemuning, rukam, jeruk kingkit, kawista, cemara, asam jawa, murbei dan soka.
Tanaman bonsai memiliki beberapa gaya diantaranya :
  1. Gaya di Atas Batu : Bonsai dengan gaya ini menampilkan perpaduan antara keindahan batu yang dililit akar bonsai dengan keindahan bonsai itu sendiri.
  2. Gaya Kelompok (Yose Uye) : Gaya ini menampilkan bonsai seakan-akan tumbuh di hutan, berhimpitan satu dengan yang lainnya.
  3. Gaya Berbatang Tiga : Gaya ini terdiri dari tiga batang yang tumbuh berdekatan, dengan menonjolkan beberapa batang yang akarnya tampak menyatu.
  4. Gaya Terpelintir  (Nejikan) : Bonsai gaya ini mempunyai penampilan fisik batang utama yang terpelintir.
  5. Gaya Tertiup Angin  (Fuki-Nagashi) : Gaya ini terinspirasi dari gerakan pohon yang hidup di puncak bukit ketika diterpa hembusan angin. Gaya ini sangat alami dan dramatis.
  6. Gaya Tegak Lurus  (Chokkan) : Gaya ini menyatakan tegak lurus dari dasar hingga ke puncak pohon, lingkar batangpun makin ke atas makin kecil.
  7. Gaya Tegak  Tidak Lurus (Tachiki) : Gaya ini merupakan variasi tegak lurus yang mengandung nilai statis dan dinamis. Batang tumbuh mulai dari tegak hingga miring sekitar 15° ke kiri atau ke kanan.
  8. Gaya Setengah Menggantung  (Han-Kengai) : Batang tumbuh dengan kemiringan sekitar 45° ke kanan atau ke kiri meliuk ke bawah, tetapi titik terbawah tidak melewati bibir pot.
  9. Gaya Menggantung  (Kengai) : Gaya menggantung hampir sama dengan gaya han-kengai. Perbedaannya terletak pada pangkal batang pokok yang tumbuh dengan kemiringan sekitar 60° dan titiok terbawah melewati bibir pot, bahkan melampaui dasar pot.
  10. Gaya Miring (Shakan) : Bonsai tumbuh miring ke kanan atau ke kiri dengan kemiringan dimulai dari pangkal batang sekitar 30°.

Secara umum ukuran bonsai dapat dibedakan berdasarkan tinggi tanamannya : sangat besar dengan tinggi lebih dari 75 cm, kategori besar tinggi 45 – 75 cm, sedang tinggi 30 – 45 cm dan sangat kecil atau istilah bonsai dikenal dengan mame tinggi tanaman dibawah 15 cm.
Harga bonsai sangat beragam tergantung jenis tanaman, ukuran, kualitas tanaman, serta tren yang sedang berlangsung. Harga bonsai berkisar mulai puluhan sampai ratusan ribu rupiah bahkan ada yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. Harga ini ditentukan oleh jenis tanaman, keunikan, ukuran, umur, dan performa tanaman. Seperti bonsai jeruk dihargai Rp 5 juta, karena selain bentuk tanaman yang pendek dan unik, tanamannyapun memamerkan buah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar